Organisasi masyarakat sipil perlu benar-benar menyadari, bahwa telah terjadi perubahan besar pada lanskap pola relasi saat ini. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi di Indonesia telah melahirkan kemungkinan untuk memperbesar kekuatan gerakan masyarakat sipil secara berlipat.

    Teknologi telah memungkinkan organisasi masyarakat sipil terhubung dengan keseluruhan lapisan masyarakat di Indonesia; menjadi bagian dari masyarakat luas, yang antar mereka pun kini juga telah serba terhubung.

    Lahirlah begitu banyak kelompok dan komunitas modern. Sebuah komunitas modern kini tidak dapat lagi dipantau secara detil keanggotaannya, bukan lagi merupakan ruang eksklusif dan mengikat. Ruang komunitas kini lebih mirip ruang datar yang terbuka, tempat bagi siapapun yang berminat dan tertarik untuk dari sekedar menghampiri, menjenguk, menyapa; hingga terlibat (jika mereka merasa perlu). Komunitas kini juga cenderung untuk tidak mau dilabeli dengan sebuah bendera kelembagaan.

    Anggota komunitas yang terbuka ini sangat kritis akan potensi keterlibatan mereka yang dapat menjadi ‘komoditas dagang’ sebuah lembaga/pihak tertentu. Maka keterikatan mereka pada sebuah komunitas saat ini lebih berdasar pada bentuk aliansi dan keterlibatan yang lepas.

    Mereka, secara intuitif, terbentuk berdasarkan latar kesamaan tertentu, lalu secara bersama mereka menetapkan tujuan dan nilai-nilai komunitas, memilih posisi dan peran yang akan dimainkan, menetapkan batas-batas wilayah, swatata – swakelola dalam ruang komunitas, mengatur soal keanggotaan dan perilaku anggota, dan ujungnya adalah menetapkan kegiatan-kegiatan apa yang akan mereka jalankan dalam masa pertumbuhan mereka bersama.

    Urutan tersebut di atas menggambarkan bagaimana proses pengembangan sebuah ‘kota-kota baru’ dalam ‘lanskap terhubung yang baru’.

    Komunitas ada untuk anggota, untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Organisasi maastarakat sipil juga lahir untuk dan atas nama masyarakat, tapi kemudian tanpa sadar mengambil jarak dari masyarakat. Komunitas adalah bagian dari masyarakat itu sendiri.

    Perubahan tatanan relasi pada lanskap masyarakat luas di Indonesia memberikan tantangan perubahan bagi organisasi masyarakat sipil. Revolusi ini melahirkan kemungkinan untuk penggandaan kekuatan gerakan masyarakat sipil secara berlipat, akan tetapi juga akan segera membuat OMS kehilangan posisi dan perannya dalam peta lanskap baru Indonesia, jika organisasi masyarakat sipil tidak mampu segera mendefinisikan ulang arah dan strategi organisasi dengan cerdas dan matang.