Organisasi masyarakat sipil akan berdiri, bergerak dan bertumbuh sesuai dengan visi dan misi masing-masing organisasi berbasiskan sumber daya organisasi yang dimiliki. Sumber daya yang sungguh terbatas, dibanding dengan setumpuk kompleksitas masalah yang harus dihadapi.

    Pilar sumber daya organisasi masyarakat sipil secara tradisional adalah: dukungan pendanaan, sumber daya manusia, serta data dan informasi. Pola dan skema ketersediaan dukungan pendanaan bagi organisasi masyarakat sipil di Indonesia kini mengalami perubahan signifikan. Pada titik ini, sumber daya organisasi masyarakat sipil tidak bisa direduksi hanya sebagai dukungan dana. Partisipasi dan keterlibatan publik, bahkan kini telah jauh lebih berharga. Kemitraan, jejaring, aliansi ataupun sindikasi telah menjadi tuntutan strategi yang sangat penting.

    Organisasi masyarakat sipil sampai saat ini belum menempatkan teknologi, –khususnya teknologi informasi– sebagai salah satu pilar sumber daya utama organisasi.

    Selain untuk memperkuat jangkauan dan akses organisasi masyarakat sipil terhadap komunitas dan masyarakat luas, serta selain sebagai alat komunikasi dan negoisasi yang efektif antara organisasi masyarakat sipil dengan sektor pemerintah dan bisnis; penguasaan teknologi informasi dan komunikasi sebagai faktor pengungkit bagi sumber daya organisasi yang lain.

    Teknologi ini akan membantu organisasi meningkatkan akuntabilitas organisasi melalui komunikasi publik, mengelola muara pengetahuan organisasi dan menggalang keterlibatan serta dukungan sumber daya langsung dari publik.

    Perubahan lingkungan eksternal telah memberikan pesan kuat bagi seluruh organisasi masyarakat sipil di Indonesia. Penguasaan teknologi informasi dan komunikasi menjadi salah satu syarat keberlangsungan organisasi dalam situasi keterbatasan akan sumber daya yang lain. Keterbatasan akan memunculkan iklim kompetisi terbuka; dan hanya organisasi pembelajar terbaik yang akan tinggal.